*) Disalin dari buku Menjadi Istri Sejati oleh Badr bin Ali bin Thami Al-‘Utaibi. Judul asli:’Isyruuna Nashiihah Li-Ukhtii Qobla Zawaajiha, Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang. Disertai pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id.
Ini merupakan ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suatu kaidah yang berlaku di setiap keadaan.
Jika engkau ingin mendapatkan pertolongan dan perlindungan, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolong dan mengokohkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad:7)
إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl:128)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدّاً
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan di hati mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam:96)Yakni kecintaan dan kasih sayang orang-orang yang beriman.
Al-Imam At-Tirmidzy rahimahullah menyebutkan suatu hadits dalam kitab beliau dari shahabat Anas rahimahullah sampai kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam,
“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah akan jadikan kemiskinan ada di depan matanya, dan Allah akan cerai-beraikan urusannya. Padahal dunia itu tidak akan diberikan kepadanya kecuali sebatas yang telah ditentukan untuknya. Tidaklah dia melalui sore melainkan merasa miskin, dan tidaklah dia berpagi kecuali merasa miskin pula. Dan tidaklah seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala kecuali Dia akan jadikan hati-hati orang beriman mendatanginya dengan rasa cinta dan kasih-sayang. Sesungguhnya Allah sangat bersemangat di dalam membalas segala kebaikan.”Kalau engkau ingin terlindung dari kejahatan manusia, maka Allah memberikan jaminan perlindungan dari kejahatan hamba-hamba-Nya melalui ibadah yang benar. Allah berfirman,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِن دُونِهِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ. وَمَن يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انتِقَامٍ
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakuti engkau dengan (sesembahan) selain Allah? Barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk kepadanya. Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi berkuasa untuk mengazab?” (QS. Az-Zumar:36-37)Bila engkau ingin dimudahkan ketika menghadapi masa yang sulit, keluar dari kesempitan, mengetahui yang benar di antara kebatilan, dan yang salah di antara kebenaran, maka Allah menjamin itu semua bagi siapa saja yang taat dan bertakwa kepada-Nya. Allah berfirman,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq:4)
يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika engkau bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu petunjuk dan mengampuni segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal:29)Kalau engkau ingin dijauhkan dari terperosok kepada perbuatan-perbuatan keji, maka Allah pun berfirman,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba Kami yang terpillih.” (QS. Yusuf:24)Maka, dengan terus istiqamah di atas ketaatan kepada Allah, Dia akan membebaskanmu, memilihmu, dan menjauhkanmu dari semua kejelekan. Sebagaimana Allah telah menjaga Nabi-Nya Yusuf ’alaihis salam dari terjatuh pada perbuatan keji yaitu zina, di tempat sepi dalam keadaan yang sulit bagi mayoritas manusia untuk menghindarinya.
Allah juga jadikan hubungan seseorang dengan-Nya sebagai pelindung dari terjatuh pada perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya melalui shalat,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut:45)Maka perbaikilah hubunganmu dengan Allah niscaya Allah akan berikan kebaikan kepadamu berupa suami yang baik, sebagaimana Dia telah memberikan kebaikan kepada orang-orang pilihan-Nya (para nabi dan rasul) berupa istri-istri mereka yang baik. Allah berfirman tentang Nabi-Nya, Zakariya ’alaihis salam,
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Maka Kami mengabulkan doanya (Zakariya) dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan dan mereka berdoa hanya kepada Kami dengan mengharap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya:90)Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ’anhubertutur, “Barang siapa ikhlas niatnya dalam meniti jalan yang benar — walaupun hanya untuk dirinya sendiri — Allah akan berikan kecukupan kepadanya dalam hubungan antara dia dengan orang lain. Dan barang siapa berhias dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka Allah akan memberikan keburukan padanya.”Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengomentari perkataan Umar radhiyallahu ’anhudi atas, “Perkataan ini mirip sabda Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam dan pantas jika keluar dari seorang ahli hadits yang menyampaikan kedua kalimat ini sebagai bagian dari simpanan-simpanan ilmu dan infak terbaik dari keduanya. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang lainnya dengan sebaik-baik manfaat.
Adapun kalimat pertama (barang siapa yang ikhlas niatnya dalam meniti jalan yang benar — walaupun hanya untuk dirinya sendiri — Allah akan berikan kecukupan padanya dalam berhubungan antara dia dengan orang lain), ini merupakan sumber dan asal dari kebaikan.
Sedangkan kalimat yang kedua (Dan barangsiapa berhias dengan sesuatu yang tidak dia miliki, maka Allah akan memberikan keburukan padanya), ini merupakan asal dan bagian dari kejelekan.
Jika seorang hamba niatnya ikhlas karena Allah; tujuan, keinginan, dan amalannya hanya mengharap wajah-Nya, maka Allah akan senantiasa bersamanya, karena sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan. Puncak ketakwaan dan kebaikan adalah mengikhlaskan niat hanya kepada Allah didalam mengamalkan kebenaran, dan meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang tidak tertandingi oleh sesuatu pun.
Apabila Allah telah menyertai seseorang, maka siapakah yang dapat mengalahkan atau menimpakan kejelekan padanya?Apabila yang dia amalkan adalah kebenaran namun ia tidak ikhlas karena Allah tetapi untuk mencari pujian, ucapan terima kasih dan balasan dari makhluq-Nya, atau tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan perkara duniawi, dan mengamalkan al-haq hanyalah sebagai perantara untuk mendapatkan dunia, maka semua itu tidak menjadi jaminan baginya untuk mendapatkan pertolongan.
Apabila Allah telah bersama seorang hamba, maka siapa yang merasa takut?
Kalau Allah tidak lagi menyertai seorang hamba, maka siapa lagi yang diharapkan pertolongannya? Siapa lagi yang dapat dia percaya? Siapa lagi yang akan menolongnya selain Allah?
Jika ada seseorang yang mengamalkan kebenaran untuk orang lain, sebenarnya mengamalkan hal itu untuk dirinya sendiri adalah lebih utama.
Dia ikhlaskan amalan itu karena Allah, untuk Allah, dan dia tidak lakukan itu semua untuk siapa pun.
Andai saja langit yang tujuh, bumi, dan gunung-gunung menghalanginya, niscaya Allah akan mengatasi semua permasalahannya.
Hanya saja, biasanya seseorang melalaikan dan tidak sempurna keikhlasannya pada tiga perkara: tujuan, keinginan, dan amalan; dua di antaranya atau salah satunya.
Barang siapa yang amalannya dalam kebatilan maka dia tidak akan ditolong oleh Allah. Kalau seandainya ia ditolong oleh seseorang, itu tidaklah bermanfaat baginya, sejatinya dia adalah orang yang hina dan tidak tertolong.
Sesungguhnya Allah hanya menjamin pertolongan-Nya untuk siapa yang sungguh-sungguh berada di jalan-Nya dan berjihad untuk meninggikan kalimat-Nya. Bukan untuk orang-orang yang beramal demi diri dan hawa nafsunya, karena yang seperti ini bukanlah orang yang bertakwa, bukan pula termasuk orang yang berbuat kebaikan. Kalau pun dia tertolong, itu hanyalah sebatas kebenaran yang ada padanya, karena Allah tidak menolong hamba-Nya kecuali siapa saja yang berada dalam kebenaran.
Seandainya suatu negara dikuasai oleh ahlul bathil maka Allah akan menolong mereka sebatas kesabaran yang ada pada penduduk negeri itu, karena sesungguhnya kesabaran akan selalu tertolong. Apabila orang yang bersabar itu di atas kebenaran, pada akhirnya dia akan mendapatkan pertolongan. Namun apabila orang yang bersabar itu di atas kebathilan, maka pada akhirnya dia tidak akan mendapatkan pertolongan.Jika seorang hamba beramal di atas kebenaran, ikhlas karena Allah, tetapi menyandarkan kepada diri dan kekuatannya dalam beramal — tidak menyandarkannya kepada Allah, tidak minta pertolongan, bertawakkal dan menyerahkan urusannya hanya kepada Allah, tetapi dia merasa bahwa usaha dan kekuatan itu tidaklah muncul kecuali dari usahanya sendiri — maka baginya kehinaan dan lemahnya pertolongan sesuai dengan apa yang dia amalkan.
Inti dari permasalahan ini adalah: murninya kedua tauhid (uluhiyyah dan rububiyyah) pada diri seseorang dalam beribadah kepada Allah — tanpa tercampuri apa pun — akan menjamin pertolongan baginya walau dia dipimpin oleh musuh-musuh Allah.
Imam Ahmad rahimahullah — dengan sanad yang sampai kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha — ; dia berkata, “Barang siapa dibenci oleh manusia karena berada di atas keridhaan Allah maka cukuplah baginya ridha Allah. Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan sesuatu yang dibenci Allah maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia.”– Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah –
Abu Nu’aim rahimahullah dalam kitabnya, Al-Hilyah, menyebutkan suatu riwayat dari Abdullah bin Aunrahimahullah bahwa dahulu para ahli fikih saling berpesan dan mengirim surat di antara mereka dengan,
“Barang siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan memberi kecukupan bagi kehidupan dunianya.Abu Hazim rahimahullah mengatakan, “Tidaklah seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah melainkan Allah akan memperbaiki hubungan dengan sesamanya. Sebaliknya, tidaklah jelek hubungan seseorang dengan Allah melainkan Allah akan burukkan hubungan dia dengan orang lain. Demikian itu karena berbuat baik kepada satu orang tentu lebih mudah daripada berbuat baik kepada semua orang. Sungguh ketika hubunganmu dengan Allah baik maka semua orang akan condong kepadamu. dan ketika hubunganmu dengan-Nya buruk maka semua orang akan berpaling meninggalkanmu.”
Barang siapa yang memperbaiki urusan pribadinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki apa yang tampak darinya.
Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”
Wahai saudariku, yakinlah bahwa pertolongan dan kekuatan dari Allah – keduanya akan terjaga dan terpelihara — manakala engkau istiqamah di atas jalan yang benar. Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya dengannya engkau akan mendapatkan kebahagiaan jasmani dan ruhani.
Jika Allah memberikan karunia kepadamu seorang suami yang shaleh, bijak, dan adil, maka itulah kabar gembira berupa kebahagiaan lahir dan batin. Namun, bila engkau diuji dengan suami yang tiada menjaga hak-hak Allah yang ada padamu, maka janganlah engkau abaikan kebahagiaan batinmu yaitu sikap senantiasa pasrah akan takdir Allah dan sabar atas ujian yang diberikan-Nya. Demikianlah seharusnya keadaan orang orang yang sabar dan jujur.
No comments:
Post a Comment